<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6411114291278755488</id><updated>2012-02-16T18:41:28.495-08:00</updated><title type='text'>Ners STRADA</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.joystrada.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.joystrada.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Joko Sutrisno,S.Kep,Ns,M.Kes</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12432467382007123013</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/TCVVmk2_sQI/AAAAAAAAAIU/riTl4yWqtjM/S220/jo.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>9</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6411114291278755488.post-4298230133671678058</id><published>2010-07-24T10:05:00.003-07:00</published><updated>2010-07-24T10:05:46.854-07:00</updated><title type='text'>DESAIN DAN CONTOH PROSES PENELITIAN KUALITATIF</title><content type='html'>nday, 24 May 2010 01:25 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. DESAIN PENELITIAN KAULITATIF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena paradigma, proses, metode, dan tujuannya berbeda, penelitian kualitatif memiliki model desain yang berbeda dengan penelitian kuantitatif. Tidak ada pola baku tentang format desain penelitian kualitatif, sebab; (1) instrumen utama penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri, sehingga masing-masing orang bisa memiliki model desain sendiri sesuai seleranya, (2) proses penelitian kualitatif bersifat siklus, sehingga sulit untuk dirumuskan format yang baku, dan (3) umumnya penelitian kualitatif berangkat dari kasus atau fenomena tertentu, sehingga sulit untuk dirumuskan format desain yang baku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, dari pengalaman beberapa kali melakukan penelitian kualitatif format berikut, penulis menggunakan format berikut untuk dipakai sebagai contoh yang bisa dikembangkan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PENDAHULUAN &lt;br /&gt;Tema Penelitian &lt;br /&gt;Konteks  Penelitian&lt;br /&gt;Fokus Penelitian&lt;br /&gt;Tujuan Penelitian&lt;br /&gt;Tinjauan Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;METODE PENELITIAN&lt;br /&gt;Objek dan Informan Penelitian &lt;br /&gt;Metode Perolehan dan Pengumpulan Data&lt;br /&gt;Metode Pengecekan  Keabsahan Data&lt;br /&gt;Metode Analisis Data&lt;br /&gt;Diskusi Hasil Penelitian&lt;br /&gt;Laporan Penelitian &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. CONTOH PROSES PENELITIAN KUALITATIF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses penelitian disajikan menurut tahap-tahapnya, yaitu: (1) Tahap Pra-lapangan, (2) Tahap Kegiatan Lapangan, dan (3) Tahap Pasca-lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tahap Pra-lapangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kegiatan dilakukan sebelum peneliti memasuki lapangan. Masing-masing adalah: (1) Penyusunan rancangan awal penelitian, (2) Pengurusan ijin penelitian, (3) Penjajakan lapangan dan penyempurnaan rancangan penelitian,(4) Pemilihan dan interaksi dengan subjek dan informan, dan (5) Penyiapan piranti pembantu untuk kegiatan lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dikemukakan, peneliti menaruh minat dan kepedulian terhadap gejala menglaju dan akibat-akibat sosialnya. Pengamatan sepintas sudah dilakukan jauh sebelum rancangan penelitian disusun dan diajukan sebagai topik penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal pengamatan awal dan telaah pustaka, peneliti mengajukan usulan penelitian tentang mobilitas penduduk dan perubahan di pedesaan. Usulan yang diajukan dan diseminarkan dengan mengundang teman sejawat dan pakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berpendekatan kualitatif, usulan penelitian itu dipandang bersifat sementara (tentative). Karena itu peluang seminar digunakan untuk menangkap kritik dan masukan, baik terhadap topik maupun metode penelitian. Berdasarkan kritik dan masukan tersebut, peneliti membenahi rancangan penelitiannya dan melakukan penjajakan lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjajakan lapangan dilakukan dengan tiga teknik secara simultan dan lentur, yaitu (a) pengamatan; peneliti mengamati secara langsung tentang gejala- gejala umum permasalahan, misalnya arus menglaju pada pagi dan sore hari, (b) wawancara; secara aksidental peneliti mewawancari beberapa informan dan tokoh masyarakat, (c) telaah dokumen; peneliti memilih dan merekam data dokumen yang relevan, baik yang menyangkut Bandulan maupun Kotamadya Dati II Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perumusan masalah dan pemilihan metode penelitian yang lebih tepat dilakukan lagi berdasarkan penjajakan lapangan (grand tour observation). Sepanjang kegiatan lapangan, ternyata pusat perhatian dan teknik-teknik terus mengalami penajaman dan penyesuaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ungkapan Lincoln dan Guba (1985: 208), kecenderungan rancangan penelitian yang terus-menerus mengalami penyesuaian berdasarkan interaksi antara peneliti dengan konteks ini disebut rancangan membaharu (emergent design).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penjajakan lapangan, peneliti menetapkan tema pokok penelitian ini, yaitu: perubahan sosial di mintakat penglaju (commuters' zone). Pusat perhatian diberika pada peran penglaju dalam perubahan sosial di Bandulan, Kecamatan Sukun, Kotamadya Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara rinci pusat perhatian ini mencakup beberapa pertanyaan sebagaimana diajukan dalam bab pendahuluan, yaitu: (1) Faktor apa saja, baik dari dalam diri, dari dalam desa, maupun dari luar desa, yang mendorong perilaku menglaju pada sebagian penduduk Bandulan? Apakah makna menglaju sebagaimana dihayati oleh mereka?, (2) Bagaimanakah ragam gaya hidup, pola interaksi sosial, solidaritas dan peran sosial masing-masing kategori empiris penduduk dalam perubahan sosial di Bandulan?, dan (3) Akibat-akibat sosial apa saja yang terjadi karena banyaknya penduduk yang menglaju ke luar Bandulan, baik pada sistem nilai dan kepercayaan, pranata sosial dan ekonomi, dan pola pelapisan sosial sebagaimana dirasakan oleh masyarakat setempat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tahap Pekerjaan Lapangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang pelaksanaan penelitian, ternyata penyempurnaan tidak hanya menyangkut pusat perhatian penelitian, melainkan juga pada metode penelitiannya. Bogdan dan Taylor (1975:126) memang menegaskan agar para peneliti sosial mendidik (educate) dirinya sendiri. "To be educated is to learn to create a new. We must constantly create new methods and new approaches".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep sampel dalam penelitian ini berkaitan dengan bagaimana memilih informan atau situasi sosial tertentu yang dapat memberikan informasi mantap dan terpercaya mengenai unsur-unsur pusat perhatian penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan informan mengikuti pola bola salju (snow ball sampling). Bila pengenalan dan interaksi sosial dengan responden berhasil maka ditanyakan kepada orang tersebut siapa-siapa lagi yang dikenal atau disebut secara tidak langsung olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menentukan jumlah dan waktu berinteraksi dengan sumber data, peneliti menggunakan konsep sampling yang dianjurkan oleh Lincoln dan Guba (1985), yaitu maximum variation sampling to document unique variations. Peneliti akan menghentikan pengumpulan data apabila dari sumber data sudah tidak ditemukan lagi ragam baru. Dengan konsep ini, jumlah sumber data bukan merupakan kepedulian utama, melainkan ketuntasan perolehan informasi dengan keragaman yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak semua penduduk bisa memberikan data yang diperlukan. Karena itu, hanya 25 orang sumber data yang diwawancarai secara mendalam. Masing-masing adalah 14 orang penduduk asli penglaju, 6 orang penduduk asli bukan penglaju, dan 5 orang penduduk pendatang penglaju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena data utama penelitian ini diperoleh berdasarkan interaksi dengan responden dalam latar alamiah, maka beberapa perlengkapan dipersiapkan hanya untuk memudahkan, misalnya : (1) tustel, (2) tape recorder, dan (3) alat tulis termasuk lembar catatan lapangan. Perlengkapan ini digunakan apabila tidak mengganggu kewajaran interaksi sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamatan dilakukan dalam suasana alamiah yang wajar. Pada tahap awal, pengamatan lebih bersifat tersamar. Teknik ini seringkali memaksa peneliti melakukan penyamaran. Misalnya: untuk mengamati aspek-aspek yang berhubungan dengan perilaku dan gaya hidup, peneliti beranjang-sana di rumah informan. Sambil berbincang-bincang, peneliti mencermati cara berbicara, berpakaian, penataan ruang, gaya bangunan rumah, benda-benda simbolik dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketersamaran dalam pengamatan ini dikurangi sedikit demi sedikit seirama dengan semakin akrabnya hubungan antara pengamat dengan informan. Ketika suasana akrab dan terbuka sudah tercipta, peneliti bisa mengkonfirmasikan hasil pengamatan melalui wawancara dengan informan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan wawancara, peneliti berupaya mendapatkan informasi dengan bertatap muka secara fisik danbertanya-jawab dengan informan. Dengan teknik ini, peneliti berperan sekaligus sebagai piranti pengumpul data.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama wawancara, peneliti juga mencermati perilaku gestural informan dalam menjawab pertanyaan. Untuk menghindari kekakuan suasana wawancara, tidak digunakan teknik wawancara terstruktur. Bahkan wawancara dalam penelitian ini seringkali dilakukan secara spontan, yakni tidak melalui suatu perjanjian waktu dan tempat terlebih dahulu dengan informan. Dengan ini peneliti selalu berupaya memanfaatkan kesempatan dan tempat-tempat yang paling tepat untuk melakukan wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kegiatan lapangan peneliti merasakan bahwa pengalaman sosialisasi, usia dan atribut- atribut pribadi peneliti bisa mempengaruhi interaksi peneliti dengan informan. Semakin mirip latar belakang informan dengan peneliti, semakin lancar proses pengamatan dan wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, ketika mewawancarai informan yang berbeda latar belakang, peneliti harus menyesuaikan diri dengan mereka. Banyak ragam cara menyesuaikan diri. Di antaranya dengan cara berpakaian, bahasa yang digunakan, waktu wawancara, hingga penyamaran seolah-olah peneliti memiliki sikap dan kesenangan yang sama dengan informan. Karena kendala itu, pengumpulan data terhadap penduduk asli, baik penglaju dan lebih-lebih yang bukan penglaju, berjalan agak lamban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejenuhan, bahkan rasa putus-asa kadang-kadang muncul dan menyerang peneliti. Dalam keadaan demikian, peneliti beristirahat untuk mengendapkan, membenahi catatan lapangan, dan merenungkan hasil-hasil yang diperoleh. Dengan cara ini, peneliti bisa menemukan informasi penting yang belum terkumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan antara tempat tinggal peneliti dengan informan ternyata sangat membantu kegiatan lapangan. Secara tidak sengaja peneliti bisa bertemu dengan informan, sehingga pembicaraan setiap saat bisa berlangsung. Kendati tidak dirancang, bila hasil percakapan itu memiliki arti penting bagi penelitian, akan dicatat dan diperlakukan sebagai data penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya wawancara dilaksanakan secara simultan dengan pengamatan. Kadang-kadangwawancara merupakan tindak-lanjut dari pengamatan. Misalnya, setelah mengamati suasana rumah tangga dan keluarga informan, peneliti menuliskan hasilnya dalam bentuk catatan lapangan. Wawancara dilakukan setelah itu untuk mengungkapkan makna dari setiap hasil pengamatan yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelaahan dokumentasi dilakukankhususnya untuk mendapatkan data konteks. Kajian dokumentasi di lakukan terhadap catatan-catatan, arsip- arsip, dan sejenisnya termasuk laporan-laporan yang bersangkut paut dengan permasalahan penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perekaman dokumen menjadi lebih mudah karena dokumen, baik dari kelurahan maupun dari Kotamadya cukup lengkap. Agar tidak menyulitkan lembaga yang menyediakan, peneliti meminta ijin untuk menfoto-copy dokumen-dokumen yang diperlukan atau menyalinnya ke dalam catatan peneliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan keabsahan (trustworthiness) data dalam penelitian ini dilakukan dengan empat kriteria sebagaimana dianjurkan oleh Lincoln dan Guba (1985: 289-331). Masing-masing adalah derajat: (1) kepercayaan (credibility), (2) keteralihan (transferability), (3) kebergantungan (dependability), dan (4) kepastian (confirmability).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan derajat kepercayaan data perolehan, dilakukan dengan teknik: (1) perpanjangan keikut-sertaan, (2) ketekunan pengamatan, (3) triangulasi, (4) pemeriksaan sejawat, (5) kecukupan referensial, (6) kajian kasus negatif, dan (7) pengecekan anggota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan lapangan penelitian ini semula dijadwal tidak lebih dari enam bulan. Dengan pertimbangan bahwa peningkatan waktu masih memunculkan informasi baru, maka lama kegiatan lapangan diperpanjang. Dengan perpanjangan waktu ini, seperti dikemukakan Moleong (1989), peneliti dapat mempelajari "kebudayaan", menguji kebenaran dan mengurangi distorsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengamati secara tekun, peneliti bisa menemukan ciri-ciri atau unsur-unsur dalam suatu situasi yang sangat relevan dengan peran penglaju dalam perubahan sosial di Bandulan. Bila perpanjangan keikutsertaan menyediakan lingkup, maka ketekunan pengamatan menyediakan kedalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Triangulasi dilakukan untuk melihat gejala dari berbagai sudut dan melakukan pengujian temuan dengan menggunakan berbagai sumber informasi dan berbagai teknik. Empat macam triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik pemeriksaandengan memanfaatkan sumber, metode, penyidik dan teori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Lincoln dan Guba (1985) tidak menganjurkan triangulasi teori, tampaknya Patton (1987: 327) berpendapat lain. Menurutnya, triangulasi antar teori tetap dibutuhkan sebagai penjelasan banding (rival explanation).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penelitian ini, penempatan teori lebih mengikuti anjuran Bogdan dan Taylor (1975). Menurut mereka, teori memberikan suatu penjelasan atau kerangka kerja penafsiran yang memungkinkan peneliti memberi makna pada kekacauan data (morass of data) dan menghubungkan data dengan kejadian-kejadian dan latar yang lain. Karena itu, sangat penting bagi peneliti untuk mengetengahkan temuannya dengan perspektif teoretik lain, khususnya selama tahap pengolahan data penelitian yang intensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengamatan dan wawancara tidak terstruktur yang diterapkan dalam penelitian ini memang menghasilkan data yang masih kacau. Untuk memilah dan memberi makna pada data tersebut, peneliti tidak bisa tidak harus berpaling kepada teori-teori sosiologi dan antropologi yang relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeriksaan sejawat dilakukan dengan cara mengetengahkan (to expose) hasil penelitian, baik yang bersifat sementara maupun hasil akhir, dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan sejawat. Dengan cara ini peneliti berusaha mempertahankan sikap terbuka dan kejujuran, dan mencari peluang untuk menjajaki dan menguji hipotesis yang muncul dari peneliti (pemikiran peneliti).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum menetapkan temuan sebagai kecenderungan pokok, peneliti melakukan pengecekan anggota. Ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan berapa proporsi kasus yang mendukung temuan, dan berapa yang bertentangan dengan temuan. Bila ada penyimpangan dalam kasus-kasus tertentu, peneliti menelaahnya secara lebih cermat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telaah lebih cermat terhadap kasus-kasus yang menyimpang sering disebut sebagai analisis kasus negatif. Teknik ini dilakukan untuk menelaah kasus-kasus yang saling bertentangan dengan maksud menghaluskan simpulan sampai diperoleh kepastian bahwa simpulan itu benar untuk semua kasus atau setidak-tidaknya sesuatu yang semula tampak bertentangan, akhirnya dapat diliput aspek-aspek yang tidak berkesesuaian tidak lagi termuat. Dengan kata-kata lain dapat dijelaskan "duduk persoalannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, peneliti juga menguji kecukupan acuan dalam menarik simpulan. Kecukupan acuan dalam penelitian ini dilakukan dengan mengajukan kritik internal terhadap temuan penelitian. Berbagai bahan digunakan untuk meneropong temuan penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha meningkatkan keteralihan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara "uraian rinci" (thick description). Untuk itu, peneliti melaporkan hasil penelitiannya secermat dan selengkap mungkin yang menggambarkan konteks dan pokok permasalahan secara jelas. Dengan demikian, peneliti menyediakan apa-apa yang dibutuhkan oleh pembacanya untuk dapat memahami temuan-temuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebergantungan penelitian ini diupayakan dengan audit kebergantungan. Dalam hal ini peneliti memberikan hasil penelitian dan melaporkan proses penelitian termasuk "bekas-bekas" kegiatan yang digunakan. Berdasarkan penelusurannya, seorang auditor dapat menentukan apakah temuan-temuan penelitian telah bersandar pada hasil di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepastian penelitian ini diupayakan dengan memperhatikan topangan catatan data lapangan dan koherensi internal laporan penelitian. Hal ini dilakukan dengan cara meminta berbagai pihak untuk melakukan audit kesesuaian antara temuan dengan data perolehan dan metode penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tahap Pasca Lapangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah disinggung bahwa penelitian ini menerapkan metode kualitatif, yaitu suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata orang baik tertulis maupun lisan dan tingkah laku teramati, termasuk gambar (Bogdan and Taylor, 1975).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau peneliti tidak sependapat dengan teknik-teknik analisis data kualitatif menurut Miles dan Huberman (1987), model analisis interaktif yang digambarkannya sangat membantu untuk memahami proses penelitian ini. Model analisis interaktif mengandung empat komponen yang saling berkaitan, yaitu (1) pengumpulan data, (2) penyederhanaan data, (3) pemaparan data, dan (4) penarikan dan pengujian simpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu model interaktif, analisis data tidak saja dilakukan setelah pengumpulan data, tetapi juga selama pengumpulan data. Selama tahap penarikan simpulan, peneliti selalu merujuk kepada "suara dari lapangan" untuk mendapatkan konfirmabilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis selama pengumpulan data (analysis during data collection) dimaksudkan untuk menentukan pusat perhatian (focusing), mengembangkan pertanyaan-pertanyaan analitik dan hipotesis awal, serta memberikan dasar bagi analisis pasca pengumpulan data (analysis after data collection). Dengan demikian analisis data dilakukan secara berulang-ulang (cyclical).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada setiap akhir pengamatan atau wawancara, dicatat hasilnya ke dalam lembar catatan lapangan (field notes). Lembar catatan lapangan ini berisi: (1) teknik yang digunakan, (2) waktu pengumpulan data dan pencatatannya, (3) tempat kegiatan atau wawancara, (4) paparan hasil dan catatan, dan (5) kesan dan komentar. Contoh catatan lapangan dapat diperiksa pada lampiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendirian ontologis penelitian adalah bahwa tujuan penyelidikan adalah mengembangkan suatu bangunan pengetahuan idiografik dalam bentuk "hipotesis kerja" yang menggambarkan kasus individual (Lincoln and Guba, 1985: 38). Implikasinya, konstruksi realitas, yang dalam hal ini adalah gejala menglaju dan pengaruh sosialnya, tidak dapat dipisahkan dari konteks (kedisinian, Bandulan) dan waktu (kekinian, 1996).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu peneliti memandang penting untuk menyelidiki secara cermat akar-akar gejala menglaju sebagai konteks kajian. Berdasarkan asal faktor pemicu gejala menglaju peneliti menemukenali tiga kategori faktor, yaitu: (1) dari dalam diri, (2) dari dalam desa, dan (3) dari luar desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat teknik analisis data kualitatif sebagaimana dianjurkan oleh Spradley (1979) diterapkan dalam penelitian ini. Masing-masing adalah: (1) analisis ranah (domain analysis), (2) analisis taksonomik (taxonomic analysis), (3) analisis komponensial (componential analysis). dan (4) analisis tema budaya (discovering cultural themes).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis ranah bermaksud memperoleh pengertian umum dan relatif menyeluruh mengenai pokok permasalahan. Hasil analisis ini berupa pengetahuan tingkat "permukaan" tentang berbagai ranah atau kategori konseptual. Kategori konseptual ini mewadahi sejumlah kategori atau simbol lain secara tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap awal, berdasarkan pola mobilitas hariannya, peneliti menemukenali dua kategori pokok penduduk Bandulan. Masing-masing adalah penduduk penglaju dan bukan penglaju. Berdasarkan asalnya, peneliti menemukenali dua kategori pokok penduduk Bandulan, yaitu: penduduk asli dan penduduk pendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada analisis taksonomik, pusat perhatian penelitian ditentukan terbatas pada ranah yang sangat berguna dalam upaya memaparkan atau menjelaskan gejala-gejala yang menjadi sasaran penelitian. Pilihan atau pembatasan pusat perhatian dilakukan berdasarkan pertimbangan nilai strategik temuannya bagi program peningkatan kualitas hidup subyek penelitian atau mengacu pada strategic ethnography (Faisal, 1990 : 43).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis taknonomik tidak dilakukan secara murni berdasar data lapangan, tetapi dikonsultasikan dengan bahan-bahan pustaka yang telah ada. Beberapa anggota ranah yang menarik dan dipandang penting dipilih dan diselidiki secara mendalam. Dalam hal ini adalah bagaimana peran masing-masing kategori tersebut dalam proses perubahan sosial yang berlangsung di Bandulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis komponensial dilakukan untuk mengorganisasikan perbedaan (kontras) antar unsur dalam ranah yang diperoleh melalui pengamatan dan atau wawancara terseleksi. Dalam hemat peneliti, kedalaman pemahaman tercermin dalam kemampuan untuk mengelompokkan dan merinci anggota sesuatu ranah, juga memahami karakteristik tertentu yang berasosiasi dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengetahui warga suatu ranah, memahami kesamaan dan hubungan internal, dan perbedaan antar warga dari suatu ranah, dapat diperoleh pengertian menyeluruh dan mendalam serta rinci mengenai suatu pokok permasalahan. Dengan demikian akan diperoleh pemahaman makna dari masing-masing warga ranah secara holistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil lacakan kontras di antara warga suatu ranah dimasukkan ke dalam lembar kerja paradigma (Spradley, 1979: 180). Kontras-kontras tersebut selalu diperiksa kembali sebagaimana dalam model analisis interaktif. Ringkasananalisis komponensial, yang digunakan sebagai pemandu penulisan paparan hasil penelitian inidisajikan dalam lampiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengungkap tema-tema budaya, peneliti menggunakan saran yang diberikan oleh Bogdan dan Taylor (1975:82-93). Langkah-langkah yang dilakukan adalah: (1) membaca secara cermat keseluruhan catatan lapangan, (2) memberikan kode pada topik-topik pembicaraan penting, (3) menyusun tipologi, (4) membaca kepustakaan yang terkait dengan masalah dan konteks penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan seluruh analisis, peneliti melakukan rekonstruksi dalam bentuk deskripsi, narasi dan argumentasi. Beberapa sub-topik disusun secara deduktif, dengan mendahulukan kaidah pokok yang diikuti dengan kasus dan contoh-contoh. Sub-topik selebihnya disajikan secara induktif, dengan memaparkan kasus dan contoh untuk ditarik kesimpulan umumnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6411114291278755488-4298230133671678058?l=www.joystrada.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.joystrada.co.cc/feeds/4298230133671678058/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6411114291278755488&amp;postID=4298230133671678058' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default/4298230133671678058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default/4298230133671678058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.joystrada.co.cc/2010/07/desain-dan-contoh-proses-penelitian.html' title='DESAIN DAN CONTOH PROSES PENELITIAN KUALITATIF'/><author><name>Joko Sutrisno,S.Kep,Ns,M.Kes</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12432467382007123013</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/TCVVmk2_sQI/AAAAAAAAAIU/riTl4yWqtjM/S220/jo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6411114291278755488.post-4141244837115236324</id><published>2010-07-24T09:54:00.000-07:00</published><updated>2010-07-24T10:00:18.625-07:00</updated><title type='text'>Analisis penelitian Kualitatif (pendekatan praktis)</title><content type='html'>Pekerjaan paling berat yang dilakukan peneliti setelah data terkumpul adalah analisis data. Analisis data merupakan bagian sangat penting dalam penelitian, karena dari analisis ini akan diperoleh temuan, baik temuan substantif maupun formal. Selain itu, analisis data kualitatif sangat sulit karena tidak ada pedoman baku, tidak berproses secara linier, dan tidak ada aturan-aturan yang sistematis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya analisis data adalah sebuah kegiatan untuk mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberi kode atau tanda, dan mengkategorikannya sehingga diperoleh suatu temuan berdasarkan fokus atau masalah yang ingin dijawab. Melalui serangkaian aktivitas tersebut, data kualitatif yang biasanya berserakan dan bertumpuk-tumpuk bisa disederhanakan untuk akhirnya bisa  dipahami dengan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis data kualitatif sesungguhnya sudah dimulai saat peneliti mulai mengumpulkan data, dengan cara memilah mana data yang sesungguhnya penting atau tidak. Ukuran penting dan tidaknya mengacu pada kontribusi data tersebut pada upaya menjawab fokus penelitian. Di dalam penelitian lapangan (field research) bisa saja terjadi karena memperoleh data yang sangat menarik, peneliti mengubah fokus penelitian. Ini bisa dilakukan karena perjalanan penelitian kualitatif bersifat siklus, sehingga fokus yang sudah didesain sejak awal bisa berubah di tengah jalan karena peneliti menemukan data yang sangat penting, yang sebelumnya tidak terbayangkan. Lewat data itu akan diperoleh informasi yang lebih bermakna. Untuk bisa menentukan kebermaknaan data atau informasi ini diperlukan pengertian mendalam, kecerdikan, kreativitas, kepekaan konseptual, pengalaman dan expertise peneliti. Kualitas hasil analisis data kualitatif sangat tergantung pada faktor-faktor tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalaman melakukan penelitian kualitatif beberapa kali, model analisis data yang dikenalkan oleh Spradley (1980), dan Glaser dan Strauss (1967) bisa dipakai sebagai  pedoman. Kendati tidak baku, artinya setiap peneliti kualitatif bisa mengembangkannya sendiri, secara garis besar  model analisis itu diuraikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Analisis Domain (Domain analysis). Analisis domain pada hakikatnya adalah upaya peneliti untuk memperoleh gambaran umum tentang data untuk menjawab fokus penelitian. Caranya ialah dengan membaca naskah data secara umum dan menyeluruh untuk memperoleh domain atau ranah apa saja yang ada di dalam data tersebut. Pada tahap ini peneliti belum perlu membaca dan memahami data secara rinci dan detail karena targetnya hanya untuk memperoleh domain atau ranah. Hasil analisis ini masih berupa pengetahuan tingkat “permukaan” tentang berbagai ranah konseptual. Dari hasil pembacaan itu diperoleh hal-hal penting dari kata, frase atau bahkan kalimat untuk dibuat catatan pinggir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Analisis Taksonomi (Taxonomy Analysis). Pada tahap analisis taksonomi, peneliti berupaya memahami domain-domain tertentu sesuai fokus masalah atau sasaran penelitian. Masing-masing domain mulai dipahami secara mendalam, dan membaginya lagi menjadi sub-domain, dan dari sub-domain itu dirinci lagi menjadi bagian-bagian yang lebih khusus lagi hingga tidak ada lagi yang tersisa, alias habis (exhausted). Pada tahap analisis ini peneliti bisa mendalami domain dan sub-domain yang penting lewat konsultasi dengan bahan-bahan pustaka untuk memperoleh pemahaman lebih dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Analisis Komponensial (Componential Analysis). Pada tahap ini peneliti mencoba mengkontraskan antar unsur dalam ranah yang diperoleh . Unsur-unsur yang kontras dipilah-pilah dan selanjutnya dibuat kategorisasi yang relevan. Kedalaman pemahaman tercermin dalam kemampuan untuk mengelompokkan dan merinci anggota sesuatu ranah, juga memahami karakteristik tertentu yang berasosiasi. Dengan mengetahui warga suatu ranah, memahami kesamaan dan hubungan internal, dan perbedaan antar warga dari suatu ranah, dapat diperoleh pengertian menyeluruh dan mendalam serta rinci mengenai pokok permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Analisis Tema Kultural (Discovering Cultural Themes). Analisis Tema Kultural adalah analisis dengan memahami gejala-gejala yang khas dari analisis sebelumnya. Analisis ini mencoba mengumpulkan sekian banyak tema, fokus budaya, nilai, dan simbol-simbol budaya yang ada dalam setiap domain. Selain itu, analisis ini berusaha menemukan hubungan-hubungan yang terdapat pada domain yang dianalisis, sehingga akan membentuk satu kesatuan yang holistik, yang akhirnya menampakkan tema yang dominan dan mana yang kurang dominan. Pada tahap ini yang dilakukan oleh peneliti adalah: (1) membaca secara cermat keseluruhan catatan penting, (2) memberikan kode pada topik-topik penting, (3) menyusun tipologi, (4) membaca pustaka yang terkait dengan masalah dan konteks penelitian. Berdasarkan seluruh analisis, peneliti melakukan rekonstruksi dalam bentuk deskripsi, narasi dan argumentasi. Sekali lagi di sini diperlukan kepekaan, kecerdasan, kejelian, dan kepakaran peneliti untuk bisa menarik kesimpulan secara umum sesuai sasaran penelitian.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6411114291278755488-4141244837115236324?l=www.joystrada.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.joystrada.co.cc/feeds/4141244837115236324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6411114291278755488&amp;postID=4141244837115236324' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default/4141244837115236324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default/4141244837115236324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.joystrada.co.cc/2010/07/analisis-penelitian-kualitatif.html' title='Analisis penelitian Kualitatif (pendekatan praktis)'/><author><name>Joko Sutrisno,S.Kep,Ns,M.Kes</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12432467382007123013</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/TCVVmk2_sQI/AAAAAAAAAIU/riTl4yWqtjM/S220/jo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6411114291278755488.post-6087385583753765943</id><published>2010-07-18T06:55:00.001-07:00</published><updated>2010-07-18T06:56:43.548-07:00</updated><title type='text'>DESAIN PENELITIAN</title><content type='html'>DESAIN PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Latar Belakang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melakukan penelitian salah satu hal yang penting ialah membuat desain penelitian. Desain penelitian bagaikan sebuah peta jalan bagi peneliti yang menuntun serta menentukan arah berlangsungnya proses penelitian secara benar dan tepat sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Tanpa desain yang benar seorang peneliti tidak akan dapat melakukan penelitian dengan baik karena yang bersangkutan tidak mempunyai pedoman arah yang jelas.&lt;br /&gt;Agar tercapai pembuatan desain yang benar, maka peneliti perlu menghindari sumber potensial kesalahan dalam proses penelitian secara keseluruhan. Kesalahan-kesalahan tersebut ialah:&lt;br /&gt;a. Kesalahan Dalam Perencanaan&lt;br /&gt;Kesalahan dalam perencanaan dapat terjadi saat peneliti membuat kesalahan dalam menyusun desain yang akan digunakan untuk mengumpulkan informasi. Kesalahan ini dapat terjadi pula bila peneliti salah dalam merumuskan masalah. Kesalahan dalam merumuskan masalah akan menghasilkan infromasi yang tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah yang sedang diteliti. Cara mengatasi kesalahan ini ialah mengembangkan proposal yang baik dan benar yang secara jelas menspesifikasikan metode dan nilai tambah penelitian yang akan dijalankan.&lt;br /&gt;b. Kesalahan Dalam Pengumpulan Data&lt;br /&gt;Kesalahan dalam pengumpulan data terjadi pada saat peneliti melakukan kesalahan dalam proses pengumpulan data di lapangan. Kesalahan ini dapat memperbesar tingkat kesalahan yang sudah terjadi dikarenakan perencanaan yang tidak matang. Untuk menghindari hal tersebut data yang dikoleksi harus merupakan represntasi dari populasi yang sedang diteliti dan metode pengumpulan datanya harus dapat menghasilkan data yang akurat. Cara mengatasi kesalahan ini ialah kehati-hatian dan ketepatan dalam menjalankan desain penelitian yang sudah dirancang dalam proposal.&lt;br /&gt;c. Kesalahan Dalam Melakukan Analisa&lt;br /&gt;Kesalahan dalam melakukan analisa dapat terjadi pada saat peneliti salah dalam memilih cara menganalisa data. Selanjutnya, kesalahan ini disebabkan pula adanya kesalahan dalam memilih teknik analisa yang sesuai dengan masalah dan data yang tersedia. Cara mengatasi masalah ini ialah buatlah justifikasi prosedur analisa yang digunakan untuk menyimpulkan dan memanipulasi data.&lt;br /&gt;d. Kesalahan Dalam Pelaporan&lt;br /&gt;Kesalahan dalam pelaporan terjadi jika peneliti membuat kesalahan dalam menginterprestasikan hasil-hasil penelitian. Kesalahan seperti ini terjadi pada saat memberikan makna hubungan-hubungan dan angka-angka yang diidentifikasi dari tahap analisa data. Cara mengatasi kesalahan ini ialah hasil analisa data diperiksa oleh orang-orang yang benar-benar ahli dan menguasai masalah hasil penelitian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;DESAIN PENELITIAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pengertian Desain Penelitian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain artinya rencana, tetapi apabila dikaji lebih lanjut kata itu dapat berarti pula pola, potongan, bentuk, model, tujuan dna maksud (Echols dan Hassan Shadily, 1976:177), Desain Penelitian menurut William M.K. Trochim (2006) “Research design can be thought of as the structure of research -- it is the "glue" that holds all of the elements in a research project together.” Sedangkan Lincoln dan Guba (1985:226) mendefinisikan rancangan penelitian sebagi usaha merencanakan kemungkinan-kemungkinan tertentu secara luas tanpa menunjukkan secara pasti apa yang akan dikerjakan dalam hubungan dengan unsur masing-masing.&lt;br /&gt;Desain penelitian menurut Mc Millan dalam Ibnu Hadjar (1999:102) adalah rencana dan struktur penyelidikan yang digunakan untuk memperoleh bukti-bukti empiris dalam menjawab pertanyaan penelitian.&lt;br /&gt;Dalam penelitian eksperimental, desain penelitian disebut desain eksperimental. Desain eksperimen dirancang sedemikian rupa guna meningkatkan validitas internal maupun eksternal.&lt;br /&gt;Suharsimi Arikunto (1998:85-88) mengkategorikan desain eksperimen murni menjadi 8 yaitu control group pre-test post test, random terhadap subjek, pasangan terhadap subjek, random pre test post test , random terhadap subjek dengan pre test kelompok kontrol post test kelompok eksperimen, tiga kelompok eksperimen dan kontrol, empat kelompok dengan 3 kelompok kontrol, dan desain waktu. &lt;br /&gt;Sutrisno Hadi (1982:441) mengkategorikan desain eksperimen menjadi enam yaitu simple randomaized, treatment by levels desaigns, treatments by subjects desaigns, random replications desaigns, factorial designs, dan groups within treatment designs. Sedangkan Ibnu Hadjar (1999:327) membedakan desain penelitian eksperimen murni menjadi dua yaitu pre test post test kelompok kontrol dan post tes kelompok kontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Macam-Macam Desain Penelitian&lt;br /&gt;Dalam penelitian eksperimen murni, desain penelitian yang populer digunakan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Control Group Post test only design atau post tes kelompok kontrol&lt;br /&gt;Desain ini subjek ditempatkan secara random kedalam kelompok-kelompok dan diekspose sebagai variabel independen diberi post test. Nilai-nilai post test kemudian dibandingkan untuk menentukan keefektifan tretment.&lt;br /&gt;Desain ini cocok untuk digunakan bila pre test tidak mungkin dilaksanakan atau pre tes mempunyai kemungkinan untuk berpengaruh pada perlakuan eksperimen. Desain ini akan lebih cocok dalam eksperimen yang berkaitan dengan pembentukan sikap karena dalam eksperimen demikian akan berpengaruh pada perlakuan.&lt;br /&gt;b. Pre test post test control group design atau pre tes post tes kelompok kontrol&lt;br /&gt;Desain ini melibatkan dua kelompok subjek, satu diberi perlakuan eksperimental (kelompok eksperimen) dan yang lain tidak diberi apa-apa (kelompok kontrol).&lt;br /&gt;Berdasarkan desain penelitian yang disusun, penelitian kualitatif dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :&lt;br /&gt;a. Desain penelitian kualitatif non standar&lt;br /&gt;Desain penelitian dalam paradigma positivistik kuantitatif bersifat terstandar, artinya ada aturan yang sama yang harus dipenuhi oleh peneliti untuk mengadakan penelitian dalam bidang apapun juga. Pelaksanaan penelitian dimulai dari adanya masalah, membatasi obyek penelitian, mencari teori dan hasil penelitian yang relevan, mendesain metode penelitian, mengumpulkan data, menganalisis data, membuat kesimpulan, ada yang menambah dengan implikasi, saran dan atau rekomendasi. Sebelum data diolah, perlu diuji terlebih dulu validitas dan reliabilitasnya, baik dari segi konstrak teori, isi maupun empiriknya. Sistematika penulisan sudah terstandar, yaitu: Bab I. Pendahuluan (latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan/batasan masalah, dst.). Bab II. Kajian teori atau kajian pustaka (kajian teori yang sesuai dengan masalah yang diteliti, hasil penelitian yang relevan, kerangka pikir, hipotesis/pertanyaan penelitian). Bab III. Metode penelitian (Desain, tempat dan waktu penelitian, populasi dan sampel, variabel penelitian, instrumen dan teknik analisis data). Bab IV. Hasil penelitian. Bab V. Kesimpulan (ada yang menambah, implikasi, keterbatasan penelitian dan saran).Desain penelitian kualitatif non standar sebetulnya menggunakan standar seperti kuantitatif tetapi bersifat flesibel (tidak kaku). Dengan kata lain model ini merupakan modifikasi dari model penelitian paradigma positivistik kuantitatif dengan menyederhanakan sistematika ataupun menyatukan bebarapa bagian dalam bab yang sama, misalnya memasukkan metode penelitian dalam bab I . Desain penelitian kualitatif non standar ini digunakan untuk penelitian kualitatif dalam paradigma positivistik dan penelitian kualitatif dalam paradigma bahasa&lt;br /&gt;b. Desain penelitian kualitatif tentatif&lt;br /&gt;Model ini sama sekali berbeda dari model-model di atas. Desain penelitian terstandar dan non standar disusun sebelum peneliti terjun ke lapangan dan dijadikan sebagai acuan dalam mengadakan penelitian, sedangkan desain penelitian tentatif disusun sebelum ke lapangan juga tetapi setelah peneliti memasuki lapangan penelitian, desain penelitian dapat berubah-ubah untuk menyesuaikan dengan kondisi realitas lapangan yang dihadapi. Acuan pelaksanaan penelitian tidak sepenuhnya tergantung pada desain yang telah disusun sebelumnya, tetapi lebih memperhatikan kondisi realitas yang dihadapi. &lt;br /&gt;Dalam desain penelitian terstandar maupun non standar dapat dibakukan dengan istilah-istilah: masalah, kerangka teori, metode penelitian, analisis dan kesimpulan dan lainnya. Model tentatif menggunakan dasar sistematika yang berbeda. Sistematika model ini unit-unitnya atau bab-babnya disesuaikan dengan sistematika substantif obyeknya.&lt;br /&gt;C. Tipe-Tipe Desain Penelitian&lt;br /&gt;Secara garis besar ada dua macam tipe desain, yaitu: Desain Ex Post Facto dan Desain Eskperimental. Faktor-faktor yang membedakan kedua desain ini ialah pada desain pertama tidak terjadi manipulasi varaibel bebas sedang pada desain yang kedua terdapat adanya manipulasi variable bebas. Tujuan utama penggunaan desain yang pertama ialah bersifat eksplorasi dan deskriptif; sedang desain kedua bersifat eksplanatori (sebab akibat). Jika dilihat dari sisi tingkat pemahaman permasalahan yang diteliti, maka desain ex post facto menghasilkan tingkat pemahaman persoalan yang dikaji pada tataran permukaan sedang desain eksperimental dapat menghasilkan tingkat pemahaman yang lebih mendalam. Kedua desain utama tersebut mempunyai sub-sub desain yang lebih khusus. Yang termasuk dalam kategori pertama ialah studi lapangan dan survei. Sedang yang termasuk dalam kategori kedua ialah percobaan di lapangan (field experiment) dan percobaan di laboratorium (laboratory experiment)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sub Desain Ex post Facto&lt;br /&gt;a. Studi Lapangan:&lt;br /&gt;Studi lapangan merupakan desain penelitian yang mengkombinasikan antara pencarian literature (Literature Study), survei berdasarkan pengalaman dan / atau studi kasus dimana peneliti berusaha mengidentifikasi variable-variabel penting dan hubungan antar variable tersebut dalam suatu situasi permasalahan tertentu. Studi lapangan umumnya digunakan sebagai sarana penelitian lebih lanjut dan mendalam.&lt;br /&gt;b. Survei&lt;br /&gt;Desain survei tergantung pada penggunaan jenis kuesioner. Survei memerlukan populasi yang besar jika peneliti menginginkan hasilnya mencerminkan kondisi nyata. Semakin samplenya besar, survei semakin memberikan hasil yang lebih akurat. Dengan survei seorang peneliti dapat mengukap masalah yang banyak, meski hanya sebatas dipermukaan. Sekalipun demikian, survei bermanfaat jika peneliti menginginkan informasi yang banyak dan beraneka ragam. Metode survei sangat popular karena banyak digunakan dalam penelitian bisnis. Keunggulan survei yang lain ialah mudah melaksanakan dan dapat dilakukan secara cepat. &lt;br /&gt;2. Sub Desain Desain Eksperimental&lt;br /&gt;a. Eksperimen Lapangan&lt;br /&gt;Desain eksperimen lapangan merupakan penelitian yang dilakukan dengan menggunakan latar yang realistic dimana peneliti melakukan campur tangan dan melakukan manipulasi terhadap variabel bebas. &lt;br /&gt;b. Eksperimen Laboratorium&lt;br /&gt;Desain eksperimen laboratorium menggunakan latar tiruan dalam melakukan penelitiannya. Dengan menggunakan desain ini, peneliti melakukan campur tangan dan manipulasi variable-variabel bebas serta memungkinkan penliti melakukan kontrol terhadap aspek-aspek kesalahan utama.&lt;br /&gt;3. Desain Spesifik Ex Post Facto dan Eksperimental&lt;br /&gt;Sebelum membicarakan desain spesifik Ex Post facto dan eksperimental, system notasi yang digunakan perlu diketahui terlebih dahulu. Sistem notasi tersebut adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X: Digunakan untuk mewakili pemaparan (exposure) suatu kelompok yang diuji terhadap suatu perlakuan eksperimental pada variable bebas yang kemudian efek pada variable tergantungnya akan diukur.&lt;br /&gt;O: menunjukkan adanya suatu pengukuran atau observasi terhadap variable tergantung yang sedang diteliti pada individu, kelompok atau obyek tertentu.&lt;br /&gt;R: menunjukkan bahwa individu atau kelompok telah dipilih dan ditentukan secara random untuk tujuan-tujuan studi.&lt;br /&gt;a. Ex Post Facto&lt;br /&gt;Sebagaimana disebut sebelumnya bahwa dalam desain Ex Post Facto tidak ada manipulasi perlakukan terhadap variable bebasya maka system notasinya baik studi lapangan atau survei hanya ditulis dengan O atau O lebih dari satu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 1: Penelitian dilakukan dengan menggunakan dua populasi, yaitu Perusahaan A dan Perusahaan B, maka notasinya:&lt;br /&gt;O1&lt;br /&gt;O2&lt;br /&gt;Dimana O1 merupakan kegiatan observasi yang dilakukan di perusahaan A dan O2 merupakan kegiatan observasi yang dilakukan di perusahaan B.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh 2: Secara random kita meneliti 200 perusahaan dari populasi 1000 perusahaan mengenai system penggajiannya. Survei dilakukan dengan cara mengirim kuesioner pada 200 manajer, maka konfigurasi desainnya akan seperti di bawah ini:&lt;br /&gt;(R) O1 &lt;br /&gt;Dimana O1 mewakili survei di 200 perusahaan dengan memberikan kuesioner kepada 200 manajer yang dipilih secara random (R ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila sample yang sama kita teliti secara berulang-ulang, misalnya selama tiga kali dalam tiga bulan berturut-turut, maka notasinya adalah:&lt;br /&gt;(R) O3 dimana O1 merupakan observasi yang pertama, O2 merupakan observasi yang kedua dan O3 merupakan observasi yang ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Desain-Desain Eksperimental&lt;br /&gt;Desain eksperimental dibagai menjadi dua, yaitu: pre-eksperimental (quasi-experimental) dan desain eksperimental sebenarnya (true experimental). Perbedaan kedua tipe desain ini terletak pada konsep kontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.1. One Shot Case Study&lt;br /&gt;Desain eksperimental yang paling sederhana disebut One Shot Case Study . Desain ini digunakan untuk meneliti pada satu kelompok dengan diberi satu kali perlakuan dan pengukurannya dilakukan satu kali. Diagramnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;X O&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.2. One Group Pre-test – Post-test Design&lt;br /&gt;Desain kedua disebut One Group Pre-test – Post-test Design yang meupakan perkembangan dari desain di atas. Pengembangannya ialah dengan cara melakukan satu kali pengukuran didepan (pre-test) sebelum adanya perlakuan (treatment) dan setelah itu dilakukan pengukuran lagi (post-test). Desainnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;O1 X O2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada desain ini peneliti melakukan pengukuran awal pada suatu obyek yang diteliti, kemudian peneliti memberikan perlakuan tertentu. Setelah itu pengukuran dilakukan lagi untuk yang kedua kalinya. Desain tersebut dapat dikembangkan dalam bentuk lainnya, yaitu: desain time series”. Jika pengukuran dilakukan secara beulang-ulang dalam kurun waktu tertentu. Maka desainnya menjadi seperti di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O1 O2 O3 X O4 O5 O6&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada desain time series, peneliti melakukan pengukuran di depan selama 3 kali berturut, kemudian dia memberikan perlakuan pada obyek yang diteliti. Kemudian peneliti melakukan pengukuran selama 3 kali lagi setelah perlakuan dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.3. Static Group Comparison&lt;br /&gt;Desain ketiga adalah Static Group Comparison yang merupakan modifikasi dari desain b. Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih sebagai obyek penelitian. Kelompok pertama mendapatkan perlakuan sedang kelompok kedua tidak mendapat perlakuan. Kelompok kedua ini berfungsi sebagai kelompok pembanding / pengontrol. Desainnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;X O1&lt;br /&gt;O2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.4. Post Test Only Control Group Design&lt;br /&gt;Desain ini merupakan desain yang paling sederhana dari desain eksperimental sebenarnya (true experimental design), karena responden benar-benar dipilih secara random dan diberi perlakuan serta ada kelompok pengontrolnya. Desain ini sudah memenuhi criteria eksperimen sebenarnya, yaitu dengan adanya manipulasi variable, pemilihan kelompok yang diteliti secara random dan seleksi perlakuan. Desainnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( R ) X O1&lt;br /&gt;( R ) O2&lt;br /&gt;Maksud dari desain tersebut ialah ada dua kelompok yang dipilih secara random. Kelompok pertama diberi perlakuan sedang kelompok dua tidak. Kelompok pertama diberi perlakuan oleh peneliti kemudian dilakukan pengukuran; sedang kelompok kedua yang digunakan sebagai kelompok pengontrol tidak diberi perlakukan tetapi hanya dilakukan pengukuran saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.5. Pre-test – Post – test Control Group Design&lt;br /&gt;Desain ini merupakan pengembangan design d di atas. Perbedaannya terletak pada baik kelompok pertama dan kelompok pengontrol dilakukan pengukuran didepan (pre-test). Desainnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( R ) O1 X O2&lt;br /&gt;( R ) O3 O4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.6. Solomon Four Group Design&lt;br /&gt;Desain ini merupakan kombinasi desain Post Test Only Control Group Design dan Pre-test – Post – test Control Group Design yang merupakan model desain ideal untuk melakukan penelitian eksperimen terkontrol. Peneliti dapat menekan sekecil mungkin sumber-sumber kesalahan karena adanya empat kelompok yang berbeda dengan enam format pengkuran. Desainya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;( R ) O1 X O2&lt;br /&gt;( R ) O3 O4&lt;br /&gt;( R ) X O5&lt;br /&gt;( R ) O6 &lt;br /&gt;Maksud desain tersebut ialah: Peneliti memilih empat kelompok secara random. Kelompok pertama yang merupakan kelompok inti diberi perlakuan dan dua kali pengukuran, yaitu di depan (pre-test) dan sesudah perlakuan (post-test). Kelompok dua sebagai kelompok pengontrol tidak diberi perlakuan tetapi dilakukan pengukuran seperti di atas, yaitu: pengukuran di depan (pre-test) dan pengukuran sesudah perlakuan (post-test). Kelompok ketiga diberi perlakuan dan hanya dilakukan satu kali pengukuran sesudah dilakukan perlakuan (post-test) dan kelompok keempat sebagai kelompok pengontrol kelompok ketiga hanya diukur satu kali saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Desain Eksperimental Tingkat Lanjut&lt;br /&gt;c.1. Desain Random Sempurna (Completely Randomised Design)&lt;br /&gt;Desain ini digunakan untuk mengukur pengaruh suatu variable bebas yang dimanipulasi terhadap variable tergantung. Pemilihan kelompok secara random dilakukan untuk mendapatkan kelompok-kelompok yang ekuivalen&lt;br /&gt;Contoh:&lt;br /&gt;Kasus: Pihak direksi suatu perusahaan ingin mengetahui pengaruh tiga jenis yang berbeda dalam memberikan instruksi yang dilakukan oleh atasan kepada bawahan. Untuk tujuan penelitian ini dipilih secara random tiga kelompok masing-masing beranggotakan 25 orang Instruksi untuk kelompok pertama diberikan secara lisan, untuk kelompok kedua secara tertulis dan untuk kelompok ketiga instruksinya tidak spesifik. Ketiga kelompok diberi waktu sekitar 15 menit untuk memikirkan situasinya. Kemudian ketiganya diberi test obyektif untuk mengetahui seberapa baik mereka memahami pekerjaan yang akan dilakukan. Formulasi masalah kasus ini ialah: Apakah manipulasi variable bebas mempengaruhi pemahaman para pegawai bawahan dalam melaksanakan pekerjaan mereka?&lt;br /&gt;Desain Penelitiannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan&lt;br /&gt;Kelompok Eksperimental Kelompok Pengontrol&lt;br /&gt;Instruksi&lt;br /&gt;A1. (Lisan)&lt;br /&gt;A2. (Tertulis)&lt;br /&gt;A3. Tidak Spesifik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X11&lt;br /&gt;X21&lt;br /&gt;X31&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X25,1&lt;br /&gt;X12&lt;br /&gt;X22&lt;br /&gt;X32&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X25,2&lt;br /&gt;X13&lt;br /&gt;X23&lt;br /&gt;X33&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X25,3&lt;br /&gt;Perlakuan&lt;br /&gt;x.1&lt;br /&gt;x.2&lt;br /&gt;x.3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.2. Desain Blok Random (Randomised Block Design)&lt;br /&gt;Desain ini merupakan penyempurnaan Desain Random Sempurna di atas. Pada desain sebelumnya perbedaan yang terdapat pada masing-masing individu tidak diperhatikan, sehingga menghasilkan kelompok-kelompok yang mempunyai anggota yang bereda-beda karaketrsitiknya. Agar desain yang kita buat dapat menghasilkan output yang baik, maka diperlukan memilih anggota kelompok (responden) yang berasal dari populasi yang mempunyai karakteristik yang sama. Oleh karena itu peneliti harus dapat mengidentifikasi beberapa sumber utama perbedaan-perbedaan yang dimaksud secara dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh Desainnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan&lt;br /&gt;Kelompok Eksperimental Kelompok Pengontrol&lt;br /&gt;------------------------------- ---------------------------&lt;br /&gt;Instruksi: a1. (Lisan) a2. (Tertulis) a3. (Tanpa Instruksi) Rata-&lt;br /&gt;Blok Rata&lt;br /&gt;(Departemen) Blok&lt;br /&gt;B1&lt;br /&gt;B2&lt;br /&gt;B3&lt;br /&gt;B4&lt;br /&gt;B5&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;5 (pekerja)&lt;br /&gt;X1.&lt;br /&gt;X2.&lt;br /&gt;X3.&lt;br /&gt;X4.&lt;br /&gt;X5.&lt;br /&gt;Rata2&lt;br /&gt;Perlakuan&lt;br /&gt;x.1&lt;br /&gt;x.2&lt;br /&gt;x.3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain di atas dapat diterangkan sebagai berikut: Pada saat studi dilakukan dengan menggunakan desain sebelumnya, para anggota dari tiga kelompok berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda. Keterbedaan latar belakang anggota merupakan suatu ganngguan atau yang disebut sebagai variable pengganggu. Untuk itu perlu dilakukan penyamaan para anggota dari masing-masing kelompok. Caranya ialah dengan menciptakan blok yang berfungsi untuk mendapatkan anggota kelompok yang sama. Dalam kasus ini blok ditentukan didasarkan pada departemen (bagian) dimana para anggota kelompok berasal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya pekerja yang berasal dari departemen yang sama dibagi menjadi lima berdasarkan department masing-masing. Kemudian masing-masing kelompok mendapatkan perlakuan yang sama, yaitu kelompok pertama mendapatkan instruksi lisan, kelompok kedua mendapatkan instruksi tertulis dan kelompok ketiga instruksi tidak spesifik. Dengan menggunakan desain ini maka peneliti akan dapat melihat dampak-dampak yang disebabkan oleh system blok per departemen serta interaksi instruksi atas ketiga kelompok tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.3. Desain Latin Square (The Latin Square Design)&lt;br /&gt;Desain ini digunakan untuk mengontrol dua variable pengganggu secara sekaligus. Berkaitan dengan kasus di atas, masih terdapat satu variable pengganggu lainnya, yaitu “kemampuan para pekerja”. Variabel kemampuan para pekerja kita bagi menjadi tiga tingkatan, yaitu: kemampuan tinggi, kemampuan menengah dan kemampuan rendah. Ketiga tingkatan variable kemampuan tersebut kemudian kita tempatkan pada baris dan kolom model Latin Square. Desain ini terdiri dari tiga baris dan tiga kolom. Kemudian secara random diambil 3 pegawai dari masing-masing departemen.&lt;br /&gt;Desainnya adalah seperti di bawah ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan Para Pekerja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blok&lt;br /&gt;c1 Tinggi&lt;br /&gt;c2 Menengah&lt;br /&gt;c3. Rendah&lt;br /&gt;Rata2&lt;br /&gt;B1&lt;br /&gt;B2&lt;br /&gt;B3&lt;br /&gt;(a1) x1&lt;br /&gt;(a2) x2&lt;br /&gt;(a3) x3&lt;br /&gt;(a2) x1&lt;br /&gt;(a3) x2&lt;br /&gt;(a1) x3&lt;br /&gt;(a3) x1&lt;br /&gt;(a1) x2&lt;br /&gt;(a2) x3&lt;br /&gt;X1..&lt;br /&gt;X2..&lt;br /&gt;X3..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.4. Desain Factorial&lt;br /&gt;Desain factorial digunakan untuk mengevaluasi dampak kombinasi dai dua atau lebih perlakuan terhadap variable tergantung. Pada kasus di bawah ini, analisa factorial diaplikasikan dengan menggunakan desain random sempurna dengan format 3 baris dan 3 kolom.&lt;br /&gt;Kasus penelitiannya adalah sebagai berikut: peneliti ingin melihat dua variable bebas, yaitu variable “tingkat kontras” dan “panjang baris” sebuah iklan. Tingkat kontras dimanipulasi menjadi “rendah”, “medium” dan “tinggi’; sedang panjang baris dimanipulasi menjadi “5 inchi’, “7 inchi” dan “12 inchi”. Desainnya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingkat Kontras&lt;br /&gt;Panjang Baris&lt;br /&gt;B1. Rendah&lt;br /&gt;B2. Medium&lt;br /&gt;B3. Tinggi&lt;br /&gt;Rata-Rata Perlakuan&lt;br /&gt;A1. 5 inchi&lt;br /&gt;A2. 7 inchi&lt;br /&gt;A3. 12 inchi&lt;br /&gt;X1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;X3&lt;br /&gt;x..1&lt;br /&gt;x..2&lt;br /&gt;x..3&lt;br /&gt;Rata-Rata x.1. x.2. x.3.&lt;br /&gt;Perlakuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada table desain di atas X1 mempunyai arti responden yang mendapat perlakuan membaca iklan dengan panjang baris 5 inchi dan tingkat kontras warna rendah; X2 mempunyai arti responden yang mendapat perlakuan membaca iklan dengan panjang baris 7 inchi dan tingkat kontras warna medium dan X3 mempunyai arti responden yang mendapat perlakuan membaca iklan dengan panjang baris 12 inchi dan tingkat kontras warna tinggi. Dari format di atas kita akan mendapatkan 9 kombinasi yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Fungsi Desain Pemelitian&lt;br /&gt;Fungsi Desain (rancangan) Penelitian adalah :&lt;br /&gt;1. Sebagai cetak biru (blue print) bagi peneliti&lt;br /&gt;Seorang peneliti sosial menghadapi banyak kendala jika dia memulai penelitiannya tanpa suatu rencana penelitian tertentu. Untuk meminimalkan masalahnya, ada beberapa keputusan yang harus dibuat sebelum memulai penelitiannya. Sebagai contoh jika dia memilih untuk meneliti sejumlah orang secara lengsung, beberapa pertimbangan yang mungkin ada:&lt;br /&gt;a. suatu diskripsi tentang populasi yang dituju yang informasinya ingin diperoleh,&lt;br /&gt;b. beberapa metode sampling yang dipergunakan untuk memperoleh unsur- unsurnya,&lt;br /&gt;c. Ukuran sampel ,&lt;br /&gt;d. Prosedur-prosedur pengumpulan data yang digunakan untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan,&lt;br /&gt;e. Cara –cara yang mungkin untuk menganalisis dan yang telah terkumpul,&lt;br /&gt;f. Akan atau tidaknya menggunakan uji statistik dan jika menggunakan yang mana.&lt;br /&gt;2. Menetapkan batas-batas dari kegiatan penelitian dan memungkinkan peneliti menyalurkan energinya dalam beberapa arah yang spesifik.&lt;br /&gt;3. Untuk mengantisifikasi masalah-masalah yang mungkin muncul dalam pelaksanaan penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kesimpulan&lt;br /&gt;Riset yang baik perlu dirancang aktivitas dan sumberdayanya dengan baik pula.&lt;br /&gt;Rancangan riset atau desain riset adalah rencana dari struktur riset yang mengarahkan proses dan hasil riset sedapat mungkin menjadi valid, objektif, efisien dan efektif.&lt;br /&gt;Riset yang baik memiliki tingkat kekuatan pengujian (power of the test) yang tinggi, yang dapat ditingkatkan dengan:&lt;br /&gt;1. Meningkatkan ukuran sampel&lt;br /&gt;2. Memperkecil alpha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Saran&lt;br /&gt;Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa yang menempuh mata kuliah Metodologi Penelitian. Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga penulis mohon kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Black A James &amp; Dean J. Champion, Metode dan Masalah Penelitian Sosial, 1999, PT Refika Aditama, Bandung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Furchan Arief, Pengantar Penelitian Pendidikan,1982, Usaha Nasional, Surabaya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6411114291278755488-6087385583753765943?l=www.joystrada.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.joystrada.co.cc/feeds/6087385583753765943/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6411114291278755488&amp;postID=6087385583753765943' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default/6087385583753765943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default/6087385583753765943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.joystrada.co.cc/2010/07/desain-penelitian.html' title='DESAIN PENELITIAN'/><author><name>Joko Sutrisno,S.Kep,Ns,M.Kes</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12432467382007123013</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/TCVVmk2_sQI/AAAAAAAAAIU/riTl4yWqtjM/S220/jo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6411114291278755488.post-8478659151674251882</id><published>2010-05-14T08:17:00.000-07:00</published><updated>2010-05-14T08:19:35.000-07:00</updated><title type='text'>Data Nominal,Ordinal &amp;Interval,Rasio</title><content type='html'>VARIABEL NOMINAL,  ORDINAL ,  INTERVAL dan RATIO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ahli berpendapat bahwa pelaksanaan penelitian menggunakan metode ilmiah diantaranya adalah dengan melakukan langkah-langkah sistematis. Metode ilmiah merupakan pengejaran terhadap kebenaran relatif yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena keberadaan dari ilmu itu adalah untuk memperoleh interelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilmiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis. Karenanya, penelitian dan metode ilmiah, jika tidak dikatakan sama, mempunyai hubungan yang relatif dekat. Dengan adanya metode ilmiah, pertanyaan-pertanyaan dalam mencari dalil umum, akan mudah dijawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuruti Schluter (Moh Nazir), langkah penting sebelum sampai tahapan analisis data dan penentuan model adalah ketika melakukan pengumpulan dan manipulasi data sehingga bisa digunakan bagi keperluan pengujian hipotesis. Mengadakan manipulasi data berarti mengubah data mentah dari awal menjadi suatu bentuk yang dapat dengan mudah memperlihatkan hubungan-hubungan antar fenomena. Kelaziman kuantifikasi sebaiknya dilakukan kecuali bagi atribut-atribut yang tidak dapat dilakukan. Dan dari kuantifikasi data itu, penentuan mana yang dikatakan data nominal, ordinal, ratio dan interval bisa dilakukan demi memasuki wilayah penentuan model.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada ilmu-ilmu sosial yang telah lebih berkembang, melakukan analisis berdasarkan pada kerangka hipotesis dilakukan dengan membuat model matematis untuk membangun refleksi hubungan antar fenomena yang secara implisit sudah dilakukan dalam rumusan hipotesis. Analisis data merupakan bagian yang amat penting dalam metode ilmiah. Data bisa memiliki makna setelah dilakukan analisis dengan menggunakan model yang lazim digunakan dan sudah diuji secara ilmiah meskipun memiliki banyak peluang untuk digunakan. Akan tetapi masing-masing model, jika ditelaah satu demi satu, sebenarnya hanya sebagian saja yang bisa digunakan untuk kondisi dan data tertentu. Ia tidak bisa digunakan untuk menganalisis data jika model yang digunakan kurang sesuai dengan bagaimana kita memperoleh data jika menggunakan instrumen. Timbangan tidak bisa digunakan untuk mengukur tinggi badan seseorang. Sebaliknya meteran tidak bisa digunakan untuk mengukur berat badan seseorang. Karena masing-masing instrumen memiliki kegunaan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, tentu saja kita tidak ingin menggunakan model analisis hanya semata-mata karena menuruti selera dan kepentingan. Suatu model hanya lazim digunakan tergantung dari kondisi bagaimana data dikumpulkan.  Karena pada dasarnya, model adalah alat yang bisa digunakan dalam kondisi dan data apapun. Ia tetap bisa digunakan untuk menghitung secara matematis, akan tetapi tidak dalam teori. Banyaknya konsumsi makanan tentu memiliki hubungan dengan berat badan seseorang. Akan tetapi banyaknya konsumsi makanan penduduk pulau Nias, tidak akan pernah memiliki hubungan dengan berat badan penduduk Kalimantan. Motivasi kerja sebuah perusahaan elektronik, tidak akan memiliki hubungan dengan produktivitas petani karet. Model analisis statistik hanya bisa digunakan jika data yang diperoleh memiliki syarat-syarat tertentu. Masing-masing variabel tidak memiliki hubungan linier yang eksak. Data yang kita peroleh melalui instrumen pengumpul data itu bisa dianalisis dengan menggunakan model tanpa melanggar kelaziman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi keperluan analisis penelitian ilmu-ilmu sosial, teknik mengurutkan sesuatu ke dalam  skala itu artinya begitu penting mengingat sebagian data dalam ilmu-ilmu sosial mempunyai sifat kualitatif. Atribut saja sebagai objek penelitian selain kurang representatif bagi peneliti, juga sebagian orang saat ini menginginkan gradasi yang lebih baik bagi objek penelitian. Orang selain kurang begitu puas dengan atribut baik atau buruk, setuju atau tidak setuju, tetapi juga menginginkan sesuatu yang berada diantara baik dan buruk atau diantara setuju dan tidak setuju. Karena gradasi, merupakan kelaziman yang diminta bagi sebagian orang bisa menguak secara detail objek penelitian. Semakin banyak gradasi yang dibuat dalam instrumen penelitian, hasilnya akan makin representatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menuruti Moh. Nazir, teknik membuat skala adalah cara mengubah fakta-fakta kualitatif (atribut) menjadi suatu urutan kuantitatif (variabel). Mengubah fakta-fakta kualitatif menjadi urutan kuantitatif itu telah menjadi satu kelaziman paling tidak bagi sebagian besar orang, karena berbagai alasan. Pertama, eksistensi matematika sebagai alat yang lebih cenderung digunakan oleh ilmu-ilmu pengetahuan sehingga bisa mengundang kuantitatif variabel. Kedua, ilmu pengetahuan, disamping akurasi data, semakin meminta presisi yang lebih baik, lebih-lebih dalam mengukur gradasi. Karena perlunya presisi, maka kita belum tentu puas dengan atribut baik atau buruk saja. Sebagian peneliti ingin mengukur sifat-sifat yang ada antara baik dan buruk tersebut, sehingga diperoleh suatu skala gradasi yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Pembahasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Data nominal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita membicarakan bagaimana alat analisis digunakan, akan diberikan ulasan tentang bagaimana sebenarnya data nominal yang sering digunakan dalam statistik nonparametrik bagi mahasiswa. Menuruti Moh. Nazir, data nominal adalah ukuran yang paling sederhana,  dimana angka yang diberikan kepada objek mempunyai arti sebagai label saja, dan tidak menunjukkan tingkatan apapun. Ciri-ciri data  nominal adalah hanya memiliki atribut, atau nama, atau diskrit. Data nominal merupakan data kontinum dan tidak memiliki urutan. Bila objek dikelompokkan ke dalam set-set, dan kepada semua anggota set diberikan angka, set-set tersebut tidak boleh tumpang tindih dan bersisa. Misalnya tentang jenis olah raga yakni tenis, basket dan renang. Kemudian masing-masing anggota set di atas kita berikan angka, misalnya tenis (1), basket (2) dan renang (3). Jelas kelihatan bahwa angka yang diberikan tidak menunjukkan bahwa tingkat olah raga basket lebih tinggi dari tenis ataupun tingkat renang lebih tinggi dari tenis. Angka tersebut tidak memberikan arti apa-apa jika ditambahkan. Angka yang diberikan hanya berfungsi sebagai label saja. Begitu juga tentang suku, yakni Dayak, Bugis dan Badui. Tentang partai, misalnya Partai Bulan, Partai Bintang dan Partai Matahari. Masing-masing kategori tidak dinyatakan lebih tinggi dari atribut (nama) yang lain. Seseorang yang pergi ke Jakarta, tidak akan pernah mengatakan dua setengah kali, atau tiga seperempat kali. Tetapi akan mengatakan dua kali, lima kali, atau tujuh kali. Begitu seterusnya. Tidak akan pernah ada bilangan pecahan. Data nominal ini diperoleh dari hasil pengukuran dengan skala nominal. Menuruti Sugiono, alat analisis (uji hipotesis asosiatif) statistik nonparametrik yang digunakan untuk data nominal adalah Coefisien Contingensi. Akan tetapi karena pengujian hipotesis Coefisien Contingensi memerlukan rumus Chi Square (χ2), perhitungannya dilakukan setelah kita menghitung Chi Square. Penggunaan model statistik nonparametrik selain Coefisien Contingensi tidak lazim dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Data ordinal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian lain dari data kontinum adalah data ordinal. Data ini, selain memiliki nama (atribut), juga memiliki peringkat atau urutan. Angka yang diberikan mengandung tingkatan. Ia digunakan untuk mengurutkan objek dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi atau sebaliknya. Ukuran ini tidak memberikan nilai absolut terhadap objek, tetapi hanya memberikan peringkat saja. Jika kita memiliki sebuah set objek yang dinomori, dari 1 sampai n, misalnya peringkat 1, 2, 3, 4, 5 dan seterusnya, bila dinyatakan dalam skala, maka jarak antara data yang satu dengan lainnya tidak sama. Ia akan memiliki urutan mulai dari yang paling tinggi sampai paling rendah. Atau paling baik sampai ke yang paling buruk. Misalnya dalam skala Likert (Moh Nazir), mulai dari sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju sampai sangat tidak setuju. Atau jawaban pertanyaan tentang kecenderungan masyarakat untuk menghadiri rapat umum pemilihan kepala daerah, mulai dari tidak pernah absen menghadiri, dengan kode 5, kadang-kadang saja menghadiri, dengan kode 4, kurang menghadiri, dengan kode 3, tidak pernah menghadiri, dengan kode 2 sampai  tidak ingin menghadiri sama sekali, dengan kode 1. Dari hasil pengukuran dengan menggunakan skala ordinal ini akan diperoleh data ordinal. Alat analisis (uji hipotesis asosiatif) statistik nonparametrik yang lazim digunakan untuk data ordinal  adalah Spearman Rank Correlation dan Kendall Tau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Data interval&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Pemberian angka kepada set dari objek yang mempunyai sifat-sifat ukuran ordinal dan ditambah satu sifat lain, yakni jarak yang sama pada pengukuran dinamakan data interval. Data ini memperlihatkan jarak yang sama dari ciri atau sifat objek yang diukur. Akan tetapi ukuran interval tidak memberikan jumlah absolut dari objek yang diukur. Data yang diperoleh dari hasil pengukuran menggunakan skala interval dinamakan data interval. Misalnya tentang nilai ujian 6 orang mahasiswa, yakni  A, B, C, D, E dan F diukur dengan ukuran interval pada skala prestasi dengan ukuran 1, 2, 3, 4, 5 dan 6, maka dapat dikatakan bahwa beda prestasi antara C dan A adalah 3 – 1 = 2.  Beda prestasi antara C dan F adalah 6 – 3 = 3. Akan tetapi tidak bisa dikatakan bahwa prestasi E adalah 5 kali prestasi A ataupun prestasi F adalah 3 kali lebih baik dari prestasi B.   Dari hasil pengukuran dengan menggunakan skala interval  ini akan diperoleh data interval. Alat analisis (uji hipotesis asosiatif) statistik parametrik yang lazim digunakan untuk data interval ini adalah Pearson Korelasi Product Moment, Partial Corelation, Multiple Corelation, Partial Regresion, dan Multiple Regresion.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Data ratio&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukuran yang meliputi semua ukuran di atas ditambah dengan satu sifat yang lain, yakni ukuran yang memberikan keterangan tentang nilai absolut dari objek yang diukur dinamakan ukuran ratio. Ukuran ratio memiliki titik nol, karenanya, interval jarak tidak dinyatakan dengan beda angka rata-rata satu kelompok dibandingkan dengan titik nol di atas. Oleh karena ada titik nol, maka ukuran rasio dapat dibuat perkalian ataupun pembagian. Angka pada skala rasio dapat menunjukkan nilai sebenarnya dari objek yang diukur. Jika ada 4 orang pengemudi, A, B, C dan D mempunyai pendapatan masing-masing perhari Rp. 10.000, Rp.30.000, Rp. 40.000 dan Rp. 50.000. bila dilihat dengan ukuran rasio maka pendapatan pengemudi C adalah 4 kali pendapatan pengemudi A. Pendapatan D adalah 5 kali pendapatan A. Pendapatan C adalah 4/3 kali pendapatan B. Dengan kata lain, rasio antara C dan A adalah 4 : 1, rasio antara D dan A adalah 5 : 1, sedangkan rasio antara C dan B adalah 4 : 3. Interval pendapatan pengemudi A dan C adalah 30.000. dan pendapatan pengemudi C adalah 4 kali pendapatan pengemudi A.  Dari hasil pengukuran dengan menggunakan skala rasio  ini akan diperoleh data rasio. Alat analisis (uji hipotesis asosiatif) yang digunakan adalah statistik parametrik dan yang lazim digunakan untuk data rasio ini adalah Pearson Korelasi Product Moment, Partial Corelation, Multiple Corelation, Partial Regresion, dan Multiple Regresion. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan ulasan jenis pengukuran yang digunakan, maka variabel penelitian diharapkan dapat bagi 4 bagian, yakni variabel nominal, variabel ordinal, variabel interval, dan variabel rasio. Variabel nominal, yaitu variabel yang dikategorikan secara diskrit dan saling terpisah seperti status perkawinan, jenis kelamin, suku, agama dan sebagainya. Variabel ordinal adalah variabel yang disusun atas dasar peringkat, seperti peringkat prestasi mahasiswa, peringkat perlombaan catur, peringkat tingkat kesukaran suatu pekerjaan dan lain-lain. Variabel interval adalah variabel yang diukur dengan ukuran interval seperti suhu ruangan yang diukur dengan skala termometer, indeks prestasi mahasiswa, dan sebagainya. Sedangkan variabel rasio adalah variabel yang disusun dengan ukuran rasio seperti tingkat penghasilan, berat benda, panjang benda sebagainya……….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6411114291278755488-8478659151674251882?l=www.joystrada.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.joystrada.co.cc/feeds/8478659151674251882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6411114291278755488&amp;postID=8478659151674251882' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default/8478659151674251882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default/8478659151674251882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.joystrada.co.cc/2010/05/data-nominalordinal.html' title='Data Nominal,Ordinal &amp;Interval,Rasio'/><author><name>Joko Sutrisno,S.Kep,Ns,M.Kes</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12432467382007123013</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/TCVVmk2_sQI/AAAAAAAAAIU/riTl4yWqtjM/S220/jo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6411114291278755488.post-2822495039438139685</id><published>2009-09-29T23:17:00.000-07:00</published><updated>2009-09-29T23:19:14.378-07:00</updated><title type='text'>Letak Kecantikan Wanita</title><content type='html'>ntuk membentuk bibir yang menawan, ucapkanlah kata-kata kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing,bagikanlah makanan dengan mereka yang kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan rambut yang indah, mintalah seorang anak kecil untuk menyisirnya dengan jemarinya setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, dan anda tidak akan pernah berjalan sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain. Perlu senantiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali,dan diampuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jangan pernah kecilkan seseorang dari hati anda. Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, ingatlah senantiasa. Jika suatu ketika anda memerlukan pertolongan, akan senantiasa ada tangan terulur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan bertambahnya usia anda, anda akan semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, satu untuk menolong diri anda sendiri dan satu lagi untuk menolong orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakan, bukan pada bentuk tubuh, atau cara dia menyisir rambutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan wanita terdapat pada mata, cara dia memandang dunia. Karena di matanya terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan wanita bukan pada kehalusan wajah. Tetapi pada kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya, yang dengan penuh kasih memberikan perhatian dan cinta dia berikan. Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecantikan wanita ada pada sikap lembutnya, yang terpancar dari keihlasan hati dalam merawat dan menjaga keluarga “Wanita yang cantik Adalah Wanita yang bisa menjaga harga dirinya”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6411114291278755488-2822495039438139685?l=www.joystrada.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.joystrada.co.cc/feeds/2822495039438139685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6411114291278755488&amp;postID=2822495039438139685' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default/2822495039438139685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default/2822495039438139685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.joystrada.co.cc/2009/09/letak-kecantikan-wanita.html' title='Letak Kecantikan Wanita'/><author><name>Joko Sutrisno,S.Kep,Ns,M.Kes</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12432467382007123013</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/TCVVmk2_sQI/AAAAAAAAAIU/riTl4yWqtjM/S220/jo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6411114291278755488.post-1035056759749767808</id><published>2009-09-08T22:40:00.000-07:00</published><updated>2009-09-08T22:52:58.760-07:00</updated><title type='text'>Sholat tahajjud terbukti menyembuhkan penyakit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/SqdBlrOYfXI/AAAAAAAAAIA/n9UsSNnyGC0/s1600-h/Manfaat+Shalat+Tahajud+Tubuh+Kebal+Daya+Tahan+Meningkat.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 222px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/SqdBlrOYfXI/AAAAAAAAAIA/n9UsSNnyGC0/s320/Manfaat+Shalat+Tahajud+Tubuh+Kebal+Daya+Tahan+Meningkat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5379340395431361906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ternyata ibadah shalat tahajud dapat meningkatkan kekebalan tubuh manusia. Hal ini telah dibuktikan secara medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat memang merupakan rangkaian aktivitas yang sangat lengkap, mencakup pergerakan secara jasmani dan rohani. Usaha untuk menjalankan kewajiban kepada Allah SWT ini memang telah banyak diteliti oleh para ilmuwan dunia yang tertarik dengan khasiat secara medis terhadap kesehatan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat tahajud sebagai bagian dari shalat sunnah malam bila dilaksanakan dengan benar akan dapat membantu menekan stress, meningkatkan daya tahan tubuh dan bahkan diterapkan sebagai terapi penyembuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini artikel lengkapnya mengenai manfaat shalat tahajud secara medis dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan kegunaan atau faedah kesehatan lainnya. Semoga bermanfaat ya. Ibadah sempurna kesehatan tetap terjaga. Alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salat Tahajud Tingkatkan Kekebalan Tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salat Tahajud dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Bahkan, Salat Tahajud yang dijalankan dengan penuh kesungguhan, khusyuk, tepat, ikhlas, dan kontinu dapat menumbuhkan persepsi dan motivasi positif dan mengefektifkan coping, respons emosi positif (positive thinking), dapat menghindarkan reaksi stress.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian dikatakan Dr Mohammad Sholeh, pakar Salat Tahajud saat memberikan ceramah dalam acara buka bersama Serikat Pekerja Rumah Sakit Semen Gresik dengan anak yatim dan janda di aula RSSG, Jumat (4/9/2009). Menurutnya, Salat Tahajud yang menyehatkan adalah yang dilakukan secara khusyuk, ikhlas, gerakannya tepat dan istikamah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari hasil penelitiannya, membuktikan bahwa salat Tahajud dapat meningkatkan daya tahan tubuh imunologik dan untuk penyembuhan berbagai penyakit," tegas dia di hadapan para anak yatim dan janda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan, Salat Tahajud yang dilakukan dengan khusyuk, ikhlas dan istikomah dapat menurunkan sekresi hormone kortisol. Dan bagi subyek yang normal secara kuantitas tercermin pada terkendalinya secresi kortisol dalam rentang 38-690 nmol/L.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa ikhlas mustahil dapat diukur dan dibuktikan secara ilmiah, melalui penelitian ini, terduga secara medis bahwa ikhlas yang dipandang sebagai suatu yang misteri itu dapat dibuktikan secara kuantitatif melalui sekresi hormone kortisol tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6411114291278755488-1035056759749767808?l=www.joystrada.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.joystrada.co.cc/feeds/1035056759749767808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6411114291278755488&amp;postID=1035056759749767808' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default/1035056759749767808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default/1035056759749767808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.joystrada.co.cc/2009/09/sholat-tahajjud-terbukti-menyembuhkan.html' title='Sholat tahajjud terbukti menyembuhkan penyakit'/><author><name>Joko Sutrisno,S.Kep,Ns,M.Kes</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12432467382007123013</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/TCVVmk2_sQI/AAAAAAAAAIU/riTl4yWqtjM/S220/jo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/SqdBlrOYfXI/AAAAAAAAAIA/n9UsSNnyGC0/s72-c/Manfaat+Shalat+Tahajud+Tubuh+Kebal+Daya+Tahan+Meningkat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6411114291278755488.post-4447919051701497515</id><published>2009-09-01T01:02:00.000-07:00</published><updated>2009-09-01T01:15:04.370-07:00</updated><title type='text'>Berpuasa dan Penyembuhan Problem Psikologis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/SpzXoZFWs5I/AAAAAAAAAH4/7jnKcrwhzwY/s1600-h/bersila.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 252px; height: 172px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/SpzXoZFWs5I/AAAAAAAAAH4/7jnKcrwhzwY/s320/bersila.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5376409144101614482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menyambung tulisan sebelumnya berdujul Puasa dan Terapi Psikis, saya ingin menjelaskan lebih lanjut tentang manfaat puasa terhadap penyembuhan problem psikis. Sebelaumnya saya ingin menjelaskan tentang esensi puasa. Menurut para ulama dan ahli fiqih, ada tiga tingkatan orang yang berpuasaa, yaitu: puasa umum, puasa khusus dan puasa khususil khusus. Saya yakin anda sekalian sudah faham betul soal ini. Saya hanya ingin menjalaskan sekilas saja karena ada kaitannya dengan proses penyembuhan derita jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa umum, puasa yang hanya menahan haus dan lapar saja. Sesuai namanya puasa inilah yang dijalankan oleh sebagian besar orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa Khusus, puasa ini selain menahan lapar dan haus, juga menahan segenap panca indera (ucapan, pendengaran, penciuman, penglihatan dan peraba) dari hal-hal yang dilarang syariat agama. Puasa ini dilakukan oleh sedikit orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa khususil khusus, puasa ini selain menahan lapar, haus dan menahan panca indera dari segala hal yang negatif, pikiran dan hatinya hanya tertuju kehaddirat-Nya. Pikiran dan hatinya terjaga dari hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Jadi orang yang mampu menjalankan puasa khususil khusus ini, jasad, panca indera, pikiran dan hatinya benar-benar berpuasa. Lebih sedikit lagi orang yang benar-benar mampu melakukan puasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, teman-teman saya bukan mau berceramah tentang ibadah puasa, karena memang saya bukan ustadz atau kyai yang memiliki pemahaman mendalam soal hukum-hukum agama. Saya hanya berusaha mencoba memahami sejauh mana pengaruh puasa terhadap pemulihan kondisi psikologis seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika kita mampu menjalankan ibadah puasa Ramadhan ini dengan baik dan benar sesuai syariat islam (bukan sekedar menjalankan kewajiban ritual agama), saya yakin pengaruhnya akan sangat positif bagi penyembuhan derita jiwa. Saat berpuasa, tubuh, pikiran dan hati kita benar-benar hening dan jernih, hanya memikirkan hal-hal yang positif saja. Tak ada kesombongan, kebencian, dendam, iri, dengki, dan penyakit-penyakit hati lainnya yang tanpa disadari sering mengganggu ketenteraman jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat berpuasa kita melatih diri untuk berpikir, berkata, dan bertindak positif. Suasana bulan Ramadhan juga sangat mendukung, karena setiap orang berusaha untuk lebih banyak melakukan perbuatan (amalan) yang positif dan menghindari perbuatan negatif. Alangkah tenangnya jiwa kita jika mampu membebaskan diri dari segala jenis pikiran negatif, baik kepada diri sendiri, kepada orang lain dan yang terpenting kepada Tuhan. Kita hanya berpikir, berkata dan melakukan hal-hal yang positif dan selaras dengan nilai-nilai kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi teman-teman (muslim) yang sedang dalam proses penyembuhan derita psikis atau sedang menjalani terapi, jadikan puasa Ramadhan untuk menyempurnakan ikhtiar penyembuhan. Jalankan ibadah puasa dengan sepenuh hati segenap jiwa. Iringi dengan do’a yang tulus dan ikhlas. Lalu bertawakallah, serahkan dan kembalikan semuanya kepada Allah yang maha kuasa. Jika Allah berkehendak tak ada apa pun yang bisa menghalangi. Semoga Allah memberikan kesembuhan untuk anda sekalian, amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6411114291278755488-4447919051701497515?l=www.joystrada.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.joystrada.co.cc/feeds/4447919051701497515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6411114291278755488&amp;postID=4447919051701497515' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default/4447919051701497515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default/4447919051701497515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.joystrada.co.cc/2009/09/berpuasa-dan-penyembuhan-problem.html' title='Berpuasa dan Penyembuhan Problem Psikologis'/><author><name>Joko Sutrisno,S.Kep,Ns,M.Kes</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12432467382007123013</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/TCVVmk2_sQI/AAAAAAAAAIU/riTl4yWqtjM/S220/jo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/SpzXoZFWs5I/AAAAAAAAAH4/7jnKcrwhzwY/s72-c/bersila.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6411114291278755488.post-1586742237735255208</id><published>2009-08-30T22:39:00.000-07:00</published><updated>2009-08-30T22:40:29.231-07:00</updated><title type='text'>Program Studi Ilmu Keperawatan</title><content type='html'>Jati Diri Program Studi Studi S-1 ILMU KEPERAWATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program Studi Studi  S-1 ILMU KEPERAWATAN didirikan bersamaan dengan berdirinya STIKes SURYA MITRA HUSADA KEDIRI yang secara resmi didirikan sejak Desember 2003,atas ijin dari Departemen Pendidikan Nasional Nomor :13/D/0/2003 yang telah diperbaharui berdasarkan SK Mendiknas dengan Nomor 158/D/T/2006 untuk Program Studi Studi S-1 ILMU KEPERAWATAN,dan Program Studi Studi S-1 Ilmu Keperawatan telah menjadi anggota Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) dengan Nomor Anggota 034/AIPNI/2005.dan Sudah Terakreditasi B,dan Mendapatkan Ijin Penyelenggaraan Ners dari Dikti.&lt;br /&gt;Memiliki kampus milik sendiri dengan fasilitas ruangan representatif, laboratorium Keperawatan, Laboratorium Penunjang lainnya dan perpustakaan. Letak kampus di Jl. Manila,No.37 Sumberece Kediri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Visi Program Studi  : &lt;br /&gt; Menjadi pusat unggulan dalam bidang keperawatan dan  wadah pembentukan insan akademis kesehatan (keperawatan) yang profesional, memiliki integritas moral dan intelektual yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi Program Studi :&lt;br /&gt;Menyelenggarakan Pendididkan tingkat S-1 yang berbasis dalam bidang    keperawatan &lt;br /&gt;Mengembangkan kemampuan metodologis kepada mahasiswa S-1 untuk melakukan kajian &amp; penelitian di bidang keperawatan&lt;br /&gt;Mengembangkan keahlian &amp; ketrampilan mahasiswa yang mendukung profesi di bidang keperawatan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan Prodi Ilmu Keperawatan :&lt;br /&gt;Menghasilkan sarjana keperawatan yang memiliki kemampuan teoritis dan praktis dalam aspek manajemen asuhan dan kemampuan pengetahuan pendukung yang relevan.&lt;br /&gt;Menerapkan proses pembelajaran mandiri, memahami dan melaksanakan proses pembelajaran IPTEK untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan di Indonesia&lt;br /&gt;Menghasilkan sarjana keperawatan yang profesional dan memiliki ketrampilan kewirausahaan.&lt;br /&gt;Meningkatkan profesionalisme lulusan dengan Program Studi Studi pengembangan profesi dan kerjasama penyediaan jaringan kerja local, regional maupun global.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6411114291278755488-1586742237735255208?l=www.joystrada.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.joystrada.co.cc/feeds/1586742237735255208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6411114291278755488&amp;postID=1586742237735255208' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default/1586742237735255208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default/1586742237735255208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.joystrada.co.cc/2009/08/program-studi-ilmu-keperawatan_30.html' title='Program Studi Ilmu Keperawatan'/><author><name>Joko Sutrisno,S.Kep,Ns,M.Kes</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12432467382007123013</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/TCVVmk2_sQI/AAAAAAAAAIU/riTl4yWqtjM/S220/jo.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6411114291278755488.post-8406828061935701564</id><published>2009-08-30T22:10:00.000-07:00</published><updated>2009-08-30T22:18:34.047-07:00</updated><title type='text'>Program Studi Ilmu Keperawatan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/SptdE6qoKrI/AAAAAAAAAHg/R4o5tg8NWeA/s1600-h/DSC_0515.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/SptdE6qoKrI/AAAAAAAAAHg/R4o5tg8NWeA/s320/DSC_0515.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5375992919245728434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6411114291278755488-8406828061935701564?l=www.joystrada.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.joystrada.co.cc/feeds/8406828061935701564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6411114291278755488&amp;postID=8406828061935701564' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default/8406828061935701564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6411114291278755488/posts/default/8406828061935701564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.joystrada.co.cc/2009/08/program-studi-ilmu-keperawatan.html' title='Program Studi Ilmu Keperawatan'/><author><name>Joko Sutrisno,S.Kep,Ns,M.Kes</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12432467382007123013</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/TCVVmk2_sQI/AAAAAAAAAIU/riTl4yWqtjM/S220/jo.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3Qt69E9ZIBY/SptdE6qoKrI/AAAAAAAAAHg/R4o5tg8NWeA/s72-c/DSC_0515.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
